Jalan cinta seseorang siapa yang tahu. Seindah
apapun jalan yang telah dirangkai, namun bila langkah takdir tak melewatinya
maka akan berakhir percuma. Tapi cinta sejati, yang sebelumnya mungkin tiada
kita peduli dan tak dapat simpati akan menemukan jalannya. Meski harus melewati
benang merah yang kusut dan cabang-cabangnya yang semerawut.
Kamu, yang
sebelumnya tak pernah ku impikan untuk bertemu. Tak pernah terpikirkan akan
dekat denganmu akhirnya menjelma jadi jawaban atas pertanyaan jalan cintaku.
Cinta memang benar-benar, siapa yang tahu . J
Bermula dari
pertemuan kita di pesta pernikahan temanku.
Perkenalan singkat yang hanya mengukir
namaku dan namamu di masing-masing ingatan kita. Pesta nan ramai itu
bagi kita tetaplah senyap. Kalimat tak banyak terucap kita diam saling berhadap
tanpa banyak cakap. Hanya celotehan iseng
bersama mak comblang kita, bumbu cerita sesama teman sekerja. Tiada
jumpa, setahun lebih kita tiada bersua. Kau sibuk dengan dunia dan realita, aku
demikan juga tak jauh beda.
Sudenly, you’ve added me to your BBM contact. Ku terima, tentu saja setelah teringat kau pernah ku kenal lama. Ya, hanya sekedar kenal, Nama.
Tak ada cerita ini akan jadi kencan, atau chatting mesra via online. Jalan bersama duduk dibangku taman berdua, adu kata merangkai cerita atau apalah. Kau hanya ingin aku lukis diatas kertas, karena kau suka dan puji hasil karyaku. Aku mengiyakan pintamu dalam bentuk hasil jadi lukisan warna, portrait wajahmu. Itu saja, dan sudah. Aku pikir ini akhir, ternyata ini hanya sebagian kecil dari takdir, untuk akhirnya menjadikanmu milikku, utuh.
Lewat canda, sekali lagi aku memulai cinta. Karena kali ini aku tak mau luka dan melukai, mungkin canda ini harus sampai jadi berita, untuk orang tua. Agar timbul tanya, “Nak, cinta kalian ini mau dibawa sampai kemana?”. Duduk di hadapan Ayahmu, dengan mantap teriring bismilah aku jawab :
“ke rumah tangga, Insya Allah.” Alhamdulillah. Keluargamu bilang iya. Sampai di Yogya, Ibuku pun punya pernyataan yang sama. Tinggal tetap sabar tunggu waktu, meski hati ini telah menggebu dan asa telah terlanjur terburu-buru.
Sudenly, you’ve added me to your BBM contact. Ku terima, tentu saja setelah teringat kau pernah ku kenal lama. Ya, hanya sekedar kenal, Nama.
Tak ada cerita ini akan jadi kencan, atau chatting mesra via online. Jalan bersama duduk dibangku taman berdua, adu kata merangkai cerita atau apalah. Kau hanya ingin aku lukis diatas kertas, karena kau suka dan puji hasil karyaku. Aku mengiyakan pintamu dalam bentuk hasil jadi lukisan warna, portrait wajahmu. Itu saja, dan sudah. Aku pikir ini akhir, ternyata ini hanya sebagian kecil dari takdir, untuk akhirnya menjadikanmu milikku, utuh.
Lewat canda, sekali lagi aku memulai cinta. Karena kali ini aku tak mau luka dan melukai, mungkin canda ini harus sampai jadi berita, untuk orang tua. Agar timbul tanya, “Nak, cinta kalian ini mau dibawa sampai kemana?”. Duduk di hadapan Ayahmu, dengan mantap teriring bismilah aku jawab :
“ke rumah tangga, Insya Allah.” Alhamdulillah. Keluargamu bilang iya. Sampai di Yogya, Ibuku pun punya pernyataan yang sama. Tinggal tetap sabar tunggu waktu, meski hati ini telah menggebu dan asa telah terlanjur terburu-buru.
28 Maret 2016,
membuat kata “Kita” jadi resmi, kata “sah” terucap lega dari mulut saksi, kata
“Alhamdulillah” Terdengar berkali-kali dan kata orang, kita udah Suami-Istri. J
Aku tak mau bicara masalah, tentang lika-liku apa aku mencapai titik ini. Aku telah mendapat 2 predikat hampir sama dan bersamaan. Sarjana Ekonomi dan Suaminya Eni. Meski satunya tanpa upacara, tanpa aku ikut wisuda. Duduk di pelaminan bersamamu, seperti telah membayar itu semua.
Aku tak mau bicara masalah, tentang lika-liku apa aku mencapai titik ini. Aku telah mendapat 2 predikat hampir sama dan bersamaan. Sarjana Ekonomi dan Suaminya Eni. Meski satunya tanpa upacara, tanpa aku ikut wisuda. Duduk di pelaminan bersamamu, seperti telah membayar itu semua.
Desember. Allah
telah turunkan lagi apa yang ada pada-Nya ke bumi. Dan itu jadi titpan pada
kami. Muhammad Setia Al-fatih, kelak anak ini akan memanggil kami Abi &
Umi.
Waktu, adalah kertas kosong yang minta isi. Setiap dari kita adalah sang penulis, just write something right on this. Yes, this life. Semoga, sejelek apapun tulisanku, aku tetap dengamu. Yang terakhir kupilih, yang telah dan akan tetap ku cinta sampai akhir nanti.
Dari orang yang telah dipertemukan denganmu.
Waktu, adalah kertas kosong yang minta isi. Setiap dari kita adalah sang penulis, just write something right on this. Yes, this life. Semoga, sejelek apapun tulisanku, aku tetap dengamu. Yang terakhir kupilih, yang telah dan akan tetap ku cinta sampai akhir nanti.
Dari orang yang telah dipertemukan denganmu.



0 komentar:
Posting Komentar