Home » » Perias Gulita

Perias Gulita







.....Gelap, dan masih gelap.
Bukan cahaya yang enggan datang. Aku yang terlalu egois untuk tak mau memandang.
Bukan sinar yang tak lagi mau lagi berseri
Hanya aku yang terlalu sayang untuk tak sudi melepasmu pergi.....
Entahlah, musim-musim selanjutnya bagiku hanyalah musim dingin. Run, kau pergi terlalu cepat. Menyisakan cita kita yang takkan pernah selesai, menggantukan kerinduanku yang tak usai.
Setengah dari harapan itu, adalah serengah dari perasaanku, yang kian hari, kian rapuh.

....……






Jakarta hari ini bukan Jakarta seperti 3 tahun yang lalu, Jakarta yang hangat, yang penuh canda tawa. Hari ini, Jakarta terdingin kedua setelah kejadian naas itu. Ya, Hari ini Erinda akan pergi meninggalkan Jakarta. Setelah meneyelesaikan tugasnya sebagai mahasisawa sastra, dia berencana untuk pergi ke Jepang, ke Kyoto tepatnya.
Suasana tenang disana diharapkan akan merubah suasana hatinya yang kian hari bak awan mendung itu. Ya setidaknya, cukuplah memberi sedikit sinar redup agar tak terlalu kelam.

Kring...kring...kring....
Telpon genggam Erin berdering, dengan perlahan dan seperti tak ada kekuatan dia menjawab dan berkata pelan.
"Iya, sebentari lagi. Sudahlah tak usah repot-repot. Gue ga' kenapa-kenapa kok."
"Tapi kan...., baiklah kalo begitu, sebagai sahabat, cuma sebatas ini yang bisa gue lakuin. Kalo lo butuh sesuatu, lu bisa hubungin gue. Ingat hubungin gue,OK?!"
Suara bimbang bercampur kesal terdengar dari telpon diujung sana.





................Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar