Hari ini dia melakukannya lagi. Mengukir pagar sekolah yang terbuat dari kayu dengan koinnya. Ya, hampir setiap hari dia melakukannya, sambil menunggu orang yang tak ku yakini itu adalah Ayahnya datang menjemputnya. Benar saja, tak lama kemudian mercy hitam berhenti di depan gerbang sekolah ku. Tapi, kali ini gadis itu tak seperti biasanya menghampiri mobil yang tiap hari menjemputnya pulang. Dia sejenak menunduk, dan sepertinya dia menangis. Lalu orang dengan perawakan tinggi besar dengan kumis melintang datar dan sedikit berewok halus di dagunya mengandeng tangan gadis mungil itu menuju mobil. Sambil berjalan, ku lihat dia masih menangis. Sesaat mobil itu pun hilang dari pandanganku. Sambil mengayuh sepeda menuju arah pulang, aku masih memikirkan apa yang sedang terjadi pada anak gadis itu? Apa yang membuat Ariani menangis hari ini?
-Dikelas
"Teman-teman, hari ini Pak Sardi ga' masuk. Tapi beliau titip pesan buat ngerjain tugas latihan BAB V. Nanti dikumpulin ke meja guru." Kata ketua kelas kami lantang di depan kelas menyampaikan pesan dari Guru IPA kami yang tak masuk hari ini.
Setengah jam berlalu, aku pun telah menyelesaikan tugas mudah itu. Namun aku tak tau dimana rimbanya buku latihanku, mungkin sekarang sedang melanglang buana mengitari isi kelas. karena mereka, ya, mereka yang mengaku teman jika hanya ada tugas yang bisa dicontek dariku. Baiklah, lupakan tugas dan sekumpulan orang-orang munafik ini. Mataku kembali terpaku pada satu arah. Pada gadis SD yang mungil sedang duduk di baris kedua dekat pintu kelas 6B. Ya, pada dia, Ariani.
Aku memberanikan diri untuk coba keluar kelas dan menghampirinya.
"Nungguin apaan?" Tanyaku yang sempat membuatnya kaget.
"Engga' nungguin apa-apa kak. Cuma nungguin bel masuk aja." Jawabnya sambil menunduk.
"Itu juga namanya nungguin, adeeek."
Balasku setrngah kesal.
"Hehehe..." tawa bocah kelas 2 SD yang masih polos ini.
..........bersambung



0 komentar:
Posting Komentar