Keluarga Indonesia

Aku,
tak tau membaca
Menulispun aku tak bisa
makanya aku mencari guru pergi kesekolah
adikku,
pintar bernarasi
tapi tak tau mengaji
lalu dia belajar dengan ustadz dan kyai
supaya tak cuma bisa baca puisi
Kami, dididik dengan syariat
agar menjadi anak yang taat
bermartabat dan memberi manfaat
bagi agama, nusa dan bangsa
Kami, anak Indonesia


Bapakku,
hari ini tekaget parah
BBM naik harga tanpa berita
padahal kemaren hari
baru saja TDL yang melambung tinggi
naiknya pun, diam-diam lagi
apalah daya, beliau cuma buruh outsorcing
besok bulan, kontrak habis bikin pusing
cari kerja, sekarang saingannya orang asing
mereka dipermudah, kita dibuat pening
tapi Alhamdulillah
Syariat mengajarkannya jadi tabah
bersabar disaat penguasa negara bikin susah
beliau lelah, inginnya 2019 ganti penguasa
tapi bapak-bapak yang lain tak setuju rupanya
mereka mau, kalau bisa, gantinya sekarang saja
mereka, Bapak Indonesia


Bundaku,
bidadari surga bersayap peluh
merawat kami, keluarganya tanpa keluh
bundaku jelita,
cantiknya takkan lekang meski 10 periode
dengan Hijabnya,
langkah tetap gesit dan penuh rasa PD
tak mau bertele-tele banyak gaya pasang konde
supaya kerjaan beres, bisa istirahat sambil ngeteh
Namun, kadang mukanya tampak bingung
siasati belanja ketika harga beras melambung
bahkan harga garam import juga minta dihitung
syukurlah cabe bisa tanam sendiri,
namun diet nasi bagi kami yang kurus ini,
tentu bukan solusi
Bundaku cuma satu dari jutaan ibu-ibu
yang harus sadari
antara telur asli dan yang palsu
yang harus teliti,
agar tak membeli protein cacing yang tak laku
sudah berat beban bunda,
Namun Alhamdulillah
Syariat mengajarkannya ikhtiar dengan doa
dan merekalah sejatinya, Ibu Indonesia


Kamu, Bukan nenekku
dan aku juga tak mau jadi cucumu
walaupun dengan nama belakangmu
kau tetap budayawati tak tau malu
budaya apa yang kau bawa
budaya lecehkan agama dan memecah belah
bukanlah budaya Pancasila
melainkan budaya PENJAJAH
sayang sungguh sayang
Seorang ayah dengan sosok berkharisma
harus punya anak sekaliber anda
Bikin malu keluarga!!!



Hidupmu, Aturan Tuhan

Tau helm ga?
Sering pake?
Yakin?
Kalo cuma pergi ke Indoapril atau ke Betamart yang jaraknya gak ada sekilo, masih pake helm ga?
Kalo masih pake, you are the real safety rider.. kerreeen..👍👍
Nah, sekarang kita ngomongin kalo misalnya helmnya kita gak pake. Alesannya (mungkin) kira-kira adalah :
- Males, ribet naro-nya di motor
- Deket ini, gak ada polisi
- Helm nya terlalu baik bagus, takut ilang
- Helmnya terlalu banyak kenangan, takut kebayang mantan
- Dan 1001 macam alesan lainnya
Baiklah.. ada alasan yang bisa diterima ada juga alasan yang harus kita tolak. Maaf ya alesan, kamu terlau baik buat aku....😛
Tau kan, kalo helm itu diciptakan dengan alasan menjaga isi kepala kita menjadi aman.. nah kalo kita gak pake, emang kita punya niat mau celaka? Enggak kan. Tapi, kalo ada kejadian gak terduga.. ada mobil fortuner yang di kendarai oleh "papah" menabrak tiang listrik dan tiang listriknya niban kepala kita, gimana tuh ceritanya? Tiang listrik dengan tinggi 580 cm, berat 50 kg, sudut kemiringan 89͒, ditabrak mobil fortuner dengan kecepatan 100 km/jam, mau dihitung pake rumus apapun kalo niban kepala yang gak pake pelindung hasilnya sama. "= bocor".😱

Ok lah, namanya juga takdir yak, mau pake helm atau enggak, kalo udah ajal mah.. koid, koid aja.
nah pikirin pendek kayak gini ni yang bikin males ngasi tau-nya.
1) Antara pake helm sama yang gak pake helm, kalo jatoh mana yang lebih berisiko terluka lebih parah?
2) Antara pake helm sama yang gak pake helm, kalo kena razia mana yang bakal bayar lebih mahal?
3) Antara pake helm sama yang gak pake helm, kalo ketemu mantan dijalan, mana yang bakal lebih salah tingkah?
4) Antara pake helm sama yang gak pake helm, kalo ketemu ibu kost, mana yang kaburnya lebih ngebut? Jawab men, jawab.
*(khusus pertanyaan no 3, Jomblo gak perlu jawab)

Ini bukan tentang jarak (antara rumah dan mini market), ini bukan pula tentang waktu (ketika bertemu degan polisi). Tapi ini tentang aku dan kamu (kita) yang bertanggung jawab menjaga diri, ini tentang rindu (orang-orang yang menanti kedatangan kita dengan selamat). Dan pada akhirnya ini semua adalah tentang IKHTIAR.

Helm, adalah salah satu penunjang safety riding. So, how about safety living?
Jilbab. itu salah satunya. Walau hanya digunakan oleh muslimah, itu bisa manaikan persentase safety living buat semua. Gak percaya? haha.. .... yaudah.😐

Memakai jilbab bukan hanya tentang menutup aurat. kalo cuma menutup, berpakaian bahan spandex dan lilitan karet latex di sekujur tubuh juga udah menutup. tapi bukan itu substansinya.. Aurat itu gak hanya sekedar ditutup, tapi dijaga. Dan jilbab adalah satu cara untuk menjaga aurat. layaknya helm, jilbab juga variatif, berbagai bentuk dan ukuran. Ya, semua bisa digunakan. tapi apakah sesuai Standard? kalo di dunia per-Helm-an ada SNI, maka di dunia per-Jilbab-an ada namanya syar'i. dari sekian banyak modelnya, harusnya.... jilbab harus sesuai dengan syariah. Memang banyak pilihan, but you knew, which the best.

"Pakainku bukan urusanmu!" 
Ok sis, mungkin anda lupa ini negara yang berhukum dan beretika. Anda kelewat batas, kita cuma mengingatkan dengan pantas. kita cuma mengingatkan, bukan memaksakan. Kita cuma ikhtiar menjaga pandangan.

"Jangan ajari kami cara berpakaian dengan benar, cukup kalian jangan kurang ajar!"

Neng, belom pernah denger kata bang napi ya? "Kejahatan (seksual) bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan dibalik baju yang kesempitan." Kita mah cuma ikhtiar ngurangin kejahatan.

"Mending jujur nakal apa adanya, dari pada pake jilbab tapi munafik!"
Mba, yang bilang pake jilbab jadi auto suci siapa? ketika mba pake jilbab, mba gak langsung jadi malaikat. Mba cuma keliatan jadi kayak bidadari, eh. Cuma kayak ya mba, tapi tetep aja manusia. Manusia itu, tempatnya salah dan lupa. Ketika seorang akhwat berjilbab melakukan  dosa, jangan salahin jilbabnya. Jilbab itu adalah bentuk ikhtiar untuk memperbaiki diri. Dan mba, kalo ngebandingin itu jangan yang buruk sama yang buruk. Itu mah bukan bandingin tapi nyandingin.. hadeeh...

Saya mah bukan niat menggurui, cuma ngingetin doank. Toh mungkin kalian lupa bahwa Allah udah ngasi pilihan terbaik. Terbaik dari Dia, pasti adalah terbaik buat kita. Saya juga coba ngingetin buat yang emang belom bisa menjalanin hal-hal syariah lainnya, cukup men, jangan malah dijadiin bahan olok-olok.. Azab Allah itu pedih Jendral...

Girls, ketika kalian menuntut untuk jadi setara, berarti kalian sedang memposisikan bahwa kalian lebih rendah. Andai kalian tau, bahwa  Allah nyiptain kalian itu penuh dengan kemuliaan. Jelas mulia, lebih daripada setara. Tapi kok bisa, kalian rela hal yang mulia jadi hina hanya kerena minimnya busana? hmmm... apapun jawaban kalian, semoga bisa jadi bahan renungan.






- Saya, yang sedang belajar jadi orang baik



Nasi Hat

Bukan malam yang mengelabukan pandangan
Tapi ke arah cahaya kaki enggan berjalan
Tidaklah hujan yang mengutukmu kedinginan
Tapi meneduh jauhi basah hatipun enggan

Terkadang...
kita kalah bukan karena kita tak mampu
Hanya saja niat terantai kata tak mau
Ragu, seakan kau hidup tanpa punya keyakinan
Bukankah Tuhanmu Maha Melindungi,
sekalipun seisi dunia ini menakut-nakuti
Tergadaikah keberanian...?!

Sampaikanlah tulisan ini kepadaku kembali
Bila kau jumpai keadaanku
sama dengan ciutnya nyalimu saat ini.
Saat prasangkaku tak lagi baik,
karena lamunan buruk coba mengusik.



Perias Gulita







.....Gelap, dan masih gelap.
Bukan cahaya yang enggan datang. Aku yang terlalu egois untuk tak mau memandang.
Bukan sinar yang tak lagi mau lagi berseri
Hanya aku yang terlalu sayang untuk tak sudi melepasmu pergi.....
Entahlah, musim-musim selanjutnya bagiku hanyalah musim dingin. Run, kau pergi terlalu cepat. Menyisakan cita kita yang takkan pernah selesai, menggantukan kerinduanku yang tak usai.
Setengah dari harapan itu, adalah serengah dari perasaanku, yang kian hari, kian rapuh.

....……






Jakarta hari ini bukan Jakarta seperti 3 tahun yang lalu, Jakarta yang hangat, yang penuh canda tawa. Hari ini, Jakarta terdingin kedua setelah kejadian naas itu. Ya, Hari ini Erinda akan pergi meninggalkan Jakarta. Setelah meneyelesaikan tugasnya sebagai mahasisawa sastra, dia berencana untuk pergi ke Jepang, ke Kyoto tepatnya.
Suasana tenang disana diharapkan akan merubah suasana hatinya yang kian hari bak awan mendung itu. Ya setidaknya, cukuplah memberi sedikit sinar redup agar tak terlalu kelam.

Kring...kring...kring....
Telpon genggam Erin berdering, dengan perlahan dan seperti tak ada kekuatan dia menjawab dan berkata pelan.
"Iya, sebentari lagi. Sudahlah tak usah repot-repot. Gue ga' kenapa-kenapa kok."
"Tapi kan...., baiklah kalo begitu, sebagai sahabat, cuma sebatas ini yang bisa gue lakuin. Kalo lo butuh sesuatu, lu bisa hubungin gue. Ingat hubungin gue,OK?!"
Suara bimbang bercampur kesal terdengar dari telpon diujung sana.





................Bersambung

Gelang Biru









Hari ini dia melakukannya lagi. Mengukir pagar sekolah yang terbuat dari kayu dengan koinnya. Ya, hampir setiap hari dia melakukannya, sambil menunggu orang yang tak ku yakini itu adalah Ayahnya datang menjemputnya. Benar saja, tak lama kemudian mercy hitam berhenti di depan gerbang sekolah ku. Tapi, kali ini gadis itu tak seperti biasanya menghampiri mobil yang tiap hari menjemputnya pulang. Dia sejenak menunduk, dan sepertinya dia menangis. Lalu orang dengan perawakan tinggi besar dengan kumis melintang datar dan sedikit berewok halus di dagunya mengandeng tangan gadis mungil itu menuju mobil. Sambil berjalan, ku lihat dia masih menangis. Sesaat mobil itu pun hilang dari pandanganku. Sambil mengayuh sepeda menuju arah pulang, aku masih memikirkan apa yang sedang terjadi pada anak gadis itu? Apa yang membuat Ariani menangis hari ini?

-Dikelas

"Teman-teman, hari ini Pak Sardi ga' masuk. Tapi beliau titip pesan buat ngerjain tugas latihan BAB V. Nanti dikumpulin ke meja guru." Kata ketua kelas kami lantang di depan kelas menyampaikan pesan dari Guru IPA kami yang tak masuk hari ini.
Setengah jam berlalu, aku pun telah menyelesaikan tugas mudah itu. Namun aku tak tau dimana rimbanya buku latihanku, mungkin sekarang sedang melanglang buana mengitari isi kelas. karena mereka, ya, mereka yang mengaku teman jika hanya ada tugas yang bisa dicontek dariku. Baiklah, lupakan tugas dan sekumpulan orang-orang munafik ini. Mataku kembali terpaku pada satu arah. Pada gadis SD yang mungil sedang duduk di baris kedua dekat pintu kelas 6B. Ya, pada dia, Ariani.
Aku memberanikan diri untuk coba keluar kelas dan menghampirinya.

"Nungguin apaan?" Tanyaku yang sempat membuatnya kaget.
"Engga' nungguin apa-apa kak. Cuma nungguin bel masuk aja." Jawabnya sambil menunduk.
"Itu juga namanya nungguin, adeeek."
Balasku setrngah kesal.
"Hehehe..." tawa bocah kelas 2 SD yang masih polos ini.









..........bersambung

Setapak di Kota Kembang







Berselimut kabut teduh di sabtu pagi yang sendu.
Merajut cerita dengan titik langkah terbata pelan,
dari benang kusut yang sejengkal lurus perlahan.
Benang merah antara aku, kamu dan jejak di Braga.

Kembang ungu merekah ranum, terpetik untuk sesimpul senyum.
Masih kau simpan, bukan bukti tapi tanda...
Kisah kita disini pernah Harum.
Setangkai bunga antara aku, kamu dan sekitar alun-alun kota.

Tiada bintang, gerimispun kita hitung. Lantaran langit sore bersolek mendung.
sejuk coba singgah, namun terabai percuma, ketika rasa hangat masih banyak sisa.
Tiada payung, antara aku, kamu diatas Otista.

Malam menjemput, Tapi rasa tak ingin ikut.
Aku ingin memasung langkah. Biar aku dan kamu tetap disini saja. Ah, Mana bisa!
Waktu merenggut, kertas ini terguncang kalut. Tapi, memaksa ingin selalu ada cerita.
Sisa kisah antara aku dan kamu. Yang disana, memang selamanya ada cinta.

Wherever you are, laugh away...

Wherever you are, laugh away...




Andai perasaan punya iklim
pasti semua hanya sesederhana empat musim.
Mencumbu haru musim gugur yang sendu.
Meratap malam bersama lilin, di musim dingin.
Berlari lepas, di garis pantai pada musim panas.
Bertemu cinta sejati, di musim semi?
oh ya?
Aku sedang bercanda rupanya.

Kadang yang tinggal, bisa pergi kapan saja.
Apalagi yang singgah.
Sekuat apapun menahan,
sebanyak apapun alasan,
jika tiada lagi rasa nyaman,
aku bisa apa?
Tersenyum dan bilang "Semua akan baik-baik saja."
oh ya?
Lagi-lagi, aku bercanda.

Disaat terakhir pun, aku bingung mau berkata apa?
"dada..."
"Sampai jumpa..."
atau... hmm.. entah apalah...
ah!!! sudahlah...
Langkah kita tak lagi sama.
Jalan kita sudah berbeda.
Namun, dimanapun akhirnya dirimu berada, tertawalah!
Sungguh dengan dirimu, aku masih ingin bercanda.

“Bisa jadi Kamu. Tapi bukan hanya Kamu yang bisa jadi.”


Jodoh itu seperti kesempatan. Tapi diciptakan bukan untuk bersanding dengan kata “Anda kurang beruntung” atau nanti di “coba lagi”. Karena Jodoh bukan kesempatan yang untuk diundi dan jangan berpikir datang untuk kedua kali.
Kadang kesempatan itu datangnya cuma sekali. Sekali-sekalilah berani ambil itu kesempatan, daripada yang kamu dapat nanti cuma penyesalan. Kita terkadang lebih mementingkan ego, terlalu banyak menimbang, seakan-akan jodoh dibagikan secara perkilo. Yah pantesan... situ Jomblo. Hehe... Ya... 

Jomblo memang bukan dosa, tapi status seram yang disandang terlalu lama itu bisa jadi berbahaya. Kan di dunia ini ga’ semua prasangka orang selalu baik. Seenggak pedulinya kita sama omongan orang, tetep aja telinga risih kadang-kadang. Ye kan?.... Gue githu, loh nge-Jomblo-nya udah pengalaman. :P

Sebenarnya Jomblo itu status wajib sampai kamu menunjukan tanda-tanda siap nikah. Tapi jangan jadikan kata “siap” sebagai tameng untuk menunda-nunda. Kalau belom siap, ya disiapin. Bahkan segera!!! Minimal kamu udah memupuk niat dengan doa, semoga segala persiapan lancar-lancar aja... (Aamiiiiin) Doa itu ga’ cukup hanya dengan Aamiin, ikhtiarnya juga harus dibarengin.:)

Saya, kamu, dia dan mereka. Ingat, di dunia ini ga’ cuma ada kita. Percaya deh, buat dapetin pasangan yang ga’ baik aja kita saingannya susah. Apalagi kalo nyari yang soleh / soleha, ya jangan ditanya. Kalo kamu merasa belum pantas mendapatkan yang baik, belajarlah untuk memperbaiki, bukannya malah minder dan pasrah diri. Tetap berusaha, meski kiamat tinggal 2 hari. Tapi berusaha itu, tak perlu memaksakan diri. Nanti, mentang-mentang target incaran kamu kelas tinggi, malah jadi obsesi. Jadi beda niat, hati-hati. Jangan berlebih. Berusahalah jadi baik yang sewajarnya. Karena yang sewajarnya sudah pasti cukup membaikan kamu. Jika sudah siap, segerakanlah. Jangan ditunda. Percaya deh nikah itu... We.....A.....Ha Wah.... hehe.

Jadi, gitu deh.... Jodohnya dia, bisa jadi kamu. Tapi bukan hanya kamu yang bisa jadi jodohnya dia. Bisa jadi Aku. Eh, Aku mah udah.... :P